Wednesday, October 16, 2013

Kehampaan

Wanita itu menangis tersedu, meratapi nasibnya sebagai seorang pendusta,
Apalah dayanya jika mereka menyebutnya iblis.
Dia mencoba memantapkan diri dengan kaki rapuhnya,
Dia mencoba meyakinkan diri dengan hati kelamnya,
Dia mencoba menghibur diri dengan sisa mimpinya.

Berjalan tertatih,
Seiring merapihkan diri menjalin kembali retakan hati.
Memandang lurus ke depan,
Seolah mimpinya tidak pernah tergerus oleh waktu.

Sungguh berat beban yg dipikulnya.
Air yang begitu murni pun tak mampu membersihkannya.
Seuntai kata yg diucapkannya pun berubah menjadi bencana.
Kadang dia bertanya kepada sang penguasa "kenapa tak Kau buat saja aku tanpa suara" .

Sepasti tenggelamnya matahari di ujung senja,
Kehampaan dan kesunyian-lah jawaban yang ia dapatkan...

Kehampaan akan realita kehidupan dan kesunyian Tuhan.

Thursday, September 13, 2012

Kepenatan

Seekor kelinci sedang mengeluhkan kepenatannya pada sebongkah batu “entah harus kuapakan otakku ini supaya bisa lebih banyak menerima hal-hal yang sudah tidak bisa saya terima lagi” eluhnya..

Keheningan sesaat menghampiri si kelinci, lalu keheningan itu terpecahkan kembali oleh ocehannya, “salah apa aku sampe bisa dilahirkan sebagai mahluk berbulu tidak berdaya dengan kapasitas otak seadanya..”

Sore itu pun tetap sunyi dari suara selain suara si kelinci dan desahan angin meniup bulunya yang lembut.

Lalu ia pun menyadari, ia hanyalah seekor kelinci yang dilahirkan dalam liang tanah oleh sang induk. Lari dan bersembunyi adalah separuh kegiatannya selain menikmati kehidupan. Mati ditangan seorang pejagal atau dimulut seekor predator adalah hal yang ia takuti. Hal baik yang dapat ia lakukan adalah memberi senyuman pada anak kecil walau terkadang ia harus menderita.

Lalu hal besar apa yang bisa diimpikan oleh seekor kelinci?

Ps. Cerita diatas adalah cerita yang tidak ada kaitannya satu sama lain. Cerita ini hanyalah untuk mengosongkan pikiran belaka.

Wednesday, August 29, 2012

Kehilangan

Suatu ketika saat sang bulan menjemput malam, setangkai bunga menggantung pada batangnya mengharapkan sebilah sapa dari seorang manusia di dalam sana. Seorang manusia bernama lelaki yang selalu menyapanya dalam kesunyian malam dan kesendirian hatinya.

Tapi malam ini bukan malam yang seperti biasanya.. walaupun malam ini seharusnya menjadi malam yang begitu indah, karena angkasa tampaknya telah menyiapkan tudung nan indah untuk memayungi dirinya saat beradu nafas dengan sang bunga, namun entah dirinya berteduh dimana.

Ia pun merasa hampa, tanpa disadari ia merindukan sang bunga di halaman belakang rumahnya, tapi apa dikata.. mungkinkah hatinya rindu akan bunga yang tak lama pun akan layu.

Demikian halnya dengan sang bunga, apalah daya, hati pun ia tak punya. Ia hanyalah sekuntum kelopak dengan sebuah putik sari. Dengan berat hati ia menyendiri dalam sinaran bulan tanpa kekasih hati.

Tanpa disadari dan tanpa diingini, mereka pun saling kehilangan serpihan hati.